Kamis, 8 Mei 2006.
Bismillah.
Aku memercayai Tuhan.
Pada dasarnya realitas sejarahlah yang mengubah semuanya. Pemikiran, sampai kapanpun, akan dan harus berkembang terus. Sikap juga adalah dinamis. Mereka tidak bisa berdiam diri di suatu titik henti. Mereka harus terus bergerak, mengalami evolusi pada tiap bentuk dan dalam tiap fase perkembangannya.
Kehidupan adalah matahari yang bersinar, angin yang bertiup, dan air yang mengalir. Kehidupan walau bagaimanapun keadaannya harus tetap berjalan. Ia mesti bergerak maju ke depan. Letakkanlah masa lalu di belakang dirimu, karena kita hidup untuk masa depan, bukan untuk masa lalu. Maka, lihatlah dengan tajam jalan yang berada di hadapanmu.

Panasnya siang harus kau lewati. Dinginnya malam mesti kau lalui. Di depanmu, terbentang panjang jalan kehidupan yang wajib kau jalani. Meski akan ada banyak rintangan, kesedihan, dan penderitaan, kau harus bisa bertahan.
Berjanjilah untuk tetap terus bertahan.
Inilah saatnya. Ketika kesejatian diriku mengemuka ke dunia yang sebenarnya.. Tatkala pemmikiran telah menyatu dengan impian. Ketika semua keinginan terbuka dengan jelas, rambu-rambu bahaya terlihat dengan tajam. Saat motivasi menemukan kekuatannya untuk mendorong.
Di saat itulah mataku terbuka.
Segala keburukan lenyap dengan cepat. Digantikan dengan kecemerlangan pemikiran, ketajaman ingatan, kecerdasan otak, dan kedewasaan bersikap. Ditunjang oleh kekuatan keberanian, semangat, serta cinta pada setiap hal yang harus kita kerjakan. Dan yang paling penting dari semua itu adalah….Keyakinan.
Sebuah keyakinan yang tanpa cacat.
Namun aku masih percaya pada keajaiban. Sebuah kekuatan transenden misterius dari Tuhan. Karena itu semua ini harus terjadi. Diriku yang sebenarnya telah kembali.
Kini, aku mengingat-ingat, beberapa kejadian lampau yang meninggalkan kesan mendalam di hatiku. Masa-masa yang memberikan ruang harapan akan kebahagiaan. Letupan energi. Semangat yang terus memburu nafas.
Kadang aku berhenti karena kelelahan dan kemalasan. Namun aku selalu bangun lagi dan meneruskan perburuan itu. Hari-hariku teramat menyenangkan. Meskipun ada kesedihan namun tetap saja terasa menyenangkan. Begitulah adanya.
Entahlah aku selalu berhasil memperbarui semangatku. Berlari kembali usai berhenti.
Aku masih ingin hidup.
Berlari sekencang mungkin. Menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Mengunjungi rumah sahabat. Mencintai dan dicintai. Membahagiakan seluruh keluargaku. Berpikir. Berdebat. Menantang kehidupan. Berjuang mengakhiri penderitaan dan kesedihan. Dan banyak hal lainnya.
Akui ingin menatap langit biru dengan gemawannya yang bergumpa-gumpal. Melihat lembayung senja dengan semburat kemerahan menyisakan temaram di bumi.
Aku ingin berenang dan menyelami lautan biru yang membentang dengan ujungnya yang menyentuh batas cakrawala.
Aku ingin hidupku berarti.
10 Komentar
“…Aku ingin berenang dan menyelami lautan biru yang membentang dengan ujungnya yang menyentuh batas cakrawala.”————> gw sanksi loe bisa berenang, setau gw Sumedang gak punya ‘kali’ sebatas pinggul sekalipun, apalagi setinngi cakrawala…………..hahahaha…….!
Eh salah si khalid ini,
Sumedang punya Cipeles, nama sungai pling terkenal di sana sampai2 diabadikan oleh Doel Sumbang dalam lagunya yg berjudul ‘Sumedang’, makany dengerin dunk! hehe
trus lagian syp yg bilang setinggi cakrawala,
Halah interpretasimu kykny salah bos,
gini neh, kamu pernah liat sunset di pantai g?
nah itu yg namany laut yg menyentuh batas cakrawala,
jadi kayakny nyatu gitu…
Oke, even so,
Thank’s 4 the comment.
^_^
itu kan ilusi “bumi-oval”………. coba aja loe berenang ampe ujung tuh laut, ampe pingsan pun loe gak bakal ketemu ama yang namanya garis singgung laut-cakrawala…………..tul gak?
alah geli betul baca koment2nya masa orang sumedang ma orang banjar pakai kata2 “loe” hahahaha…perasaan kosakata bahasa banjar n bahasa sumedang gak ada yang memakai kata “loe”…
aku….juga mempercayai Tuhan
makasih dah mampir @my blog
moga2 g jd tipus y…
jangan ngemeng doank..!!
semangat bal!!
btw, km salah nulis ngaran urang. nu bener mah geri, lain gery. ganti bal!!
iya, kita harus pegang terus cita cita kita, jangan sampai lepas, ketika mulai lelah dekaplah cita cita tersebut di dada, agar kita merasakan kembali impian kita, mengisi kembali semangat yang memudar.
postingannya bagus, makasih ya, jadi semangat
angey@postinganny uda dtulis bbrp tahun lalu.,tp skrng dah jarang nulis lg.,ga produktip lg.,hufftt..sdang ngumpulin smangat lg ni.,hhee
mudah2an ga stuck and futur lagi.,Amin.,
hayo lah kalo lagi bt nulis aja… hehe so pasti ya?
eh, aku dah punya wordpress account… soalnya blog yang di blogger ga bisa aku buka… aneh, kayakya providerku butut sekali…
One Trackback/Pingback
[...] sunber ganbar: http://javidnamah.wordpress.com/2008/04/16/ketetapan-hati/ [...]